Manajemen pendidikan inklusi
Analisis pendidikan inklusi di SDN Kalanggunung
Siti Putri Annisa Ulwahidah
Pendidikan inklusi belum merata di Indonesia, karena memiliki banyak syarat yang harus terpenuhi. Pendidikan inklusi pada dasarnya diadakan di sekolah reguler yaitu menyamaratakan anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, bagi masyarakat yang memiliki anak yang berkebutuhan khusus kebanyakan lebih memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekolah khusus untuk yang orangtuanya mampu untuk membiayai, berbeda dengan masyarakat yang ekonomi menengah ke bawah, mereka tetap menyekolahkan anaknya di sekolah reguler selayaknya anak yang normal. Parenting orang tua yang kurang juga mengabaikan hal yang dibutuhkan anak dalam belajar, yang mereka tahu anaknya bersekolah tanpa tahu belajar dengan benar atau tidak.
SDN Kalanggunung merupakan sekolah negeri yang terletak di perkampungan, mereka menerima peserta didik tanpa melihat latar belakang anak, karena sekolah yang terjangkau jaraknya maka masyarakat lebih menyekolahkan anaknya di SDN Kalanggunung ini, penerimaan peserta didik hanya menggunakan persyaratan surat tertulis tanpa tes, sehingga kepala sekolah dan guru tidak mengetahui apakah anak berkebutuhan khusus atau tidaknya, sehingga dalam pembelajaran pun di sama ratakan.
SDN Kalanggunung menggunakan kurikulum nasional, menyamaratakan dalam pembelajaran tanpa membedakannya. Terlebih guru yang memang kurang memperhatikan setiap anak didiknya satu persatu, saat saya mencoba untuk mengajar di kelas 5 banyak anak yang kesulitan dalam menangkap pembelajaran dan sulit untuk fokus mereka lebih banyak bercanda yang akhirnya berantem.
Mereka berada di kelas yang sama tanpa pemisah hanya saja bagi mereka yang kurang dalam menangkap pembelajaran berada di belakang kelas duduknya, apabila guru yang mengajar tidak berkeliling anak tidak akan paham dalam proses belajar mengajar, karena daya tangkap mereka yang kurang dan sulit untuk fokus.
Metode pengajaran yang di gunakan di SDN Kalanggunung ini pada kurikulum yang sekarang (2022) hanya disuruh untuk menulis berdasarkan tema apa yang ada di buku, tanpa memberikan penjelasannya dan tidak memperhatikan peserta didik paham atau tidaknya, seharusnya guru kelas 5 ini mengajar menggunakan metode yang menyenangkan karena sekarang sudah zaman serba canggih, sehingga anak yang kesulitan hanya akan diam duduk atau bercanda bahkan berada di luar kelas, Lalu metode yang seharusnya di gunakan ialah mengajari anak yang kesulitan ini secara one by one di luar jam pelajaran, sehingga bisa fokus dengan apa yang diajarkan. Begitupun saya saat mengajar mereka, sebagian anak yang sudah mengerti dan paham akan keluar saat jam istirahat, sedangkan untuk anak yang kesulitan pada saat pelajaran, saya menjelaskan dan mempelajarinya kembali.
Komentar
Posting Komentar