Klasifikasi dan Karekteristik Anak Berkebutuhan Khusus

Oleh : Erwin Hidayatullah

A.   Pengertian ABK

Anak Berkebutuhan khusus merupakan anak yang memiliki kelainan/penyimpangan fisik, mental, intelektual, sosial, dan emosional dalam proses pertumbuhannya berbeda dengan anak-anak pada umumnya, sehingga mereka memerlukan pendidikan khusus.

Ada berbagai jenis anak berkebutuhan khusus di antaran :

1.     Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan.

2.     Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

3.     Tunalaras/Anak yang Mengalami Gangguan Emosi dan Perilaku.

4.     Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan

5.     Tunagrahita/anak yang mengalami hambatan dalam pola berfikir/IQ Rendah <70

6.     Cerebral palsy/Gangguan karena kerusakan otak(brain injury) sehingga mempengaruhi pengendalian fungsi motorik

7.     Gifted (anak berbakat)/Memiliki (intelegensi) diatas rata-rata anak normal.

8.     Autistis/gangguan perkembangan saraf pusat sehingga dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku terganggu.

9.     Asperger/hampir sama dengan autis cuma  lebih ringan di bandingkan Asperger dibandingkan Autis

B.    Klasifikasi ABK

1.     Tunanetra (Gangguan Penglihatan)

a.      Tunanetra ringan (defective vision/low vision); yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.

b.     Tunanetra setengah berat (partially sighted); yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang bercetak tebal.

c.      Tunanetra berat (totally blind); yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat.

2.     Tunarunggu (Pendengaran)

a.      Sangat ringan (27 – 40 dB)

Masih mampu mendengar suara dalam jarak yang dekat. Dan dalam proses belajar mengajar di sekolah, kesulitan ini masih bisa diatasi dengan menempatkan anak ada posisi strategis.

b.     Ringan (41 – 55dB)

Hanya mampu mengerti percakapan dalam jarak 3 – kaki dan harus dalam keadaan berhadap-hadapan. Sudah tidak dapat memahami percakapan dalam bentuk diskusi.

Membutuhkan alat bantu dengar dan terapi wicara. 
Terapi wicara sangat dibutuhkan karena  kurangnya kosakata yang masuk ke otak sehingga berpengaruh pada kemampuan bicara.

c.      Kondisi tuna rungu sedang (50 – 76 dB)

Kondisi anak tuna rungu pada tingkat ini sudah membutuhkan bantuan alat bantu dengar sepanjang waktu. Anak tuna rungu pada kondisi tersebut masih dapat belajar berbicara dengan mengandalkan batuan pendengaran.

d.     Kondisi tuna rungu berat (71 – 90 dB)

Pada tingkatan ini anak dengan kondisi tuna rungu tidak dapat belajar berkomunikasi tanpa ada teknik-teknik khusus dan secara edukatif anak dalam tingakatan ini sudah dianggap tuli. Kebutuhan untuk belajar bahasa isyarat juga sudaj mulai mengemuka pada tingkatan kondisi tersebut. 

3.     Tunalaras (Gangguan Emosi dan Perilaku) 

a.      Anak yang mengalami gangguan perilaku yang kacau (conduct disorder) mengacu pada tipe anak yang melawan kekuasaan, seperti bermusuhan dengan polisi dan guru, kejam, jahat, suka menyerang, hiperaktif.

b.     Anak yang cemas-menarik diri (anxious-withdraw) adalah anak yang pemalu, takut-takut, suka menyendiri, peka, dan penurut. Mereka tertekan batinnya.

c.      Dimensi ketidakmatangan (immaturity) mengacu kepada anak yang tidak ada perhatian, lambat, tak berminat sekolah, pemalas, suka melamun dan pendiam. Mereka mirip seperti anak autistik.

d.     Anak agresi sosialisasi (socialized-aggressive) mempunyai ciri atau masalah perilaku yang sama dengan gangguan perilaku yang bersosialisasi dengan “gang” tertentu. Anak tipe ini termasuk dalam perilaku pencurian dan pembolosan. Mereka merupakan suatu bahaya bagi masyarakat umum.

4.     Tunadaksa (Kelainana Anggota Tubuh)

a.      Tunadaksa taraf ringan.

Termasuk dalam klasifikasi ini adalah tunadaksa murni dan tunadaksa kombinasi ringan. Tunadaksa jenis ini pada umunya hanya mengalami sedikit gangguan mental dan kecerdasannya cenderung normal. Kelompok ini lebih banyak disebabkan adanya kelainan anggota tubuh saja. Seperti lumpuh, anggota tubuh berkurang (buntung) dan cacat fisik lainnya.

b.     Tunadaksa taraf sedang.

Termasuk dalam klasifikasi ini adalah tunadaksa akibat cacat bawaan, cerebral palsy ringan dan polio ringan. Kelompok ini banyak dialami dari tuna akibat cerebral palsy (tunamental) yang disertai dengan menurunnya daya ingat walau tidak sampai jauh dibawah normal.

c.      Tunadaksa taraf berat.

Termasuk dalam klasifikasi ini adalah tuna akibat cerebral palsy berat dan ketunaan akibat infeksi. Pada umunya, anak yang terkena kecacatan ini tingkat kecerdasannya tergolong dalam kelas debil, embesil dan idiot.

5.     Tunagrahita (Kecerdasan)

a.      Tunagrahita Ringan 

Tunagrahita ringan disebut juga maron atau debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut Binet. 

b.     Tunagrahita Sedang 

Anak tunagrahita sedang disebut juga imbesil kelompok ini memiliki IQ 51-36. 

c.      Tunagrahita Berat 

Kelompok anak tunagrahita berat sering disebut idiot. Kelompok ini dapat dibedakan lagi antara anak tunagrahita berat dan sangat berat. Tunagrahita berat (severe) memiliki IQ antara 32-20.

 

Komentar

Postingan Populer