IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF
oleh Halimatu Sadiah
Pendidikan
inklusif merupakan inovasi pendidikan untuk para anak berkebutuhan khusus
(ABK). Mereka memiliki hak yang sama dengan untuk memperoleh pendidikan agar para
anak berkebutuhan khusus mendapatkan kehidupan yang layak. Implementasi
pendidikan inklusif menempatkan anak berkebutuhan khusus untuk belajar dengan
anak normal di sekolah reguler.
Berdasarkan
perkembangannya pendidikan Inklusif di negara maju kita dapat meihat bahwa di
Amerika Serikat, diperkirakan hanya sekitar 0,5% anak berkelainan yang
bersekolah di sekolah khusus, lainnya berada di sekolah biasa (Ashman dan Elkins,1994).
Sedangkan di
Inggris, pada tahun 1980-1990-an saja, peserta didik di sekolah khusus
diproyeksikan menurun dari sembilan juta menjadi sekitar dua juta orang, karena
kembali ke sekolah biasa (Warnock,1978),
Di negara Indonesia pada umumnya
pendidikan inklusif dikelompokan selaras dengan konsep pendidikan nasional ,
yaitu:
1. Inklusif sebagai wadah pengelolaan pendidikan yang memberikan
peluang yang adil kepada semua siswa untuk dapat mengakses pendidikan tanpa
membedakan gender, etnik, status sosial dan kebutuhan khusus (kemampuan) pada
semua level/jenjang pendidikan.
2. Sekolah inklusif mengimplementasikan model multi input yang
bermakna tidak ada penolakan murid untuk belajar. Berbeda dengan kondisi saat
ini yang menerapkan sistem seleksi siswa baru dalam persekolahan dan masih
cenderung menggunakan seleksi peringkat nilai hasil kelulusan.
3. Program kurikulum yang diterapkan dalam pendidikan inklusif
berbasis kepada anak. Dalam hal ini tentu disesuaikan dengan kebutuah ABK.
Pelaksanaan pembelajaran dilakukan dalam kelas bersama-sama antara siswa
regular dan ABK
4. Sistem penilaian/evaluasi bersifat adil disesuaikan dengan
kemampuan siswa. Bagi siswa yang sanggup mengikuti evaluasi regular, dilakukan
evaluasi sesuai sistem penilain reguler, dengan memodifikasi instrumen bila
diperlukan.
PRO DAN KONTRA PENDIDIKAN INKLUSIF
Seperti halnya di Indonesia, di
negara asalnya pun penyelenggaraan pendidikan inklusif masih kontroversi
(Sunardi, 1997)
1. Pro Inklusi
Argumen yang dikemukakan para pendukung konsep pendidikan
inklusiantara lain sebagai berikut:
a.
Bukti empiris belum banyak
yang mendukung asumsi bahwa layanan pendidikan khusus yang diberikan di luar
kelas reguler menunjukkan hasil yang lebih positif bagi anak;
b.
Dana penyelenggaraan
sekolah khusus relatif lebih mahal dari pada sekolah umum;
c.
Sekolah khusus mengharuskan
penggunaan label berkelainan yang dapat berakibat negatif pada anak;
d.
Banyak anak berkebutuhan
khusus yang tidak mampu memperoleh pendidikan karena tidak tersedia sekolah
khusus yang dekat;
e.
Anak berkebutuhan khusus harus dibiasakan
tinggal dalam masyarakat bersama masyarakat lainnya.
2.
Kontra Inklusi
Para pakar yang mempertahankan
penyediaan penempatan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus
secara formal berpendapat sebagai berikut:
a. Peraturan
perundangan yang berlaku mensyaratkan bahwa bagi anak berkebutuhan khusus
disediakan layanan pendidikan yang bersifat kontinum;
b. Banyak hasil
penelitian yang tetap mendukung gagasan perlunya berbagai alternatif penempatan
pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus;
c. Banyak orang
tua dan masyarakat yang menghendaki anaknya yang berkebutuhan khusus berada di
kelas khusus;
d. Secara umum
sekolah reguler belum siap menyelenggarakan pendidikan inklusif karena keterbatasan
sumber daya pendidikannya.
Permasalahan Pendidikan
Inklusif di Sekolah
1.
Pemahaman inklusi dan implikasinya
a. Pendidikan
inklusif bagi anak berkebutuhan khusus belum dipahami sebagai upaya peningkatan
kualitas layanan pendidikan. Pemahamannya masih sebagai upaya memasukkan
disabled children ke sekolah regular dalam rangka give education right dan
kemudahan access education, serta againt discrimination.
b. Pendidikan
inklusif cenderung dipersepsi oleh masyarakat sama dengan integrasi, sehingga
masih ditemukan pendapat bahwa anak harus menyesuiakan dengan sistem sekolah.
c. Dalam
implementasinya guru cenderung belum mampu bersikap proactive dan ramah
terhadap semua anak, menimbulkan komplain orang tua, dan menjadikan anak
berkebutuhan khusus sebagai bahan cemoohan.
2.
Kebijakan sekolah
a. Meskipun
telah didukung dengan visi dan misi yang cukup jelas, menerima semua jenis anak
berkebutuhan khusus, sebagian sudah memiliki guru khusus, mempunyai catatan
hambatan belajar pada masing-masing ABK, dan kebebasan guru kelas dan guru
khusus untuk mengimplementasikan pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif,
namun cenderung belum didukung dengan koordinasi dengan tenaga profesional,
organisasi atau institusi terkait.
b. Kebijakan
sekolah yang masih kurang tepat, yaitu guru kelas tidak memiliki tangung jawab
pada kemajuan belajar ABK, serta keharusan orang tua ABK dalam penyediaan guru
khusus.
3.
Proses pembelajaran
a. Pelaksanaan
pembelajaran belum dilakukan dalam bentuk team teaching, tidak dilakukan secara
terkoordinasi.
b. Guru
cenderung masih mengalami kesulitan dalam merumusakan flexible curriculum,
pembuatan IEP, dan dalam menentukan tujuan, materi, dan metode pembelajaran.
c. Masih terjadi
kesalahan praktek bahwa target kurikulum ABK sama dengan siswa lainnya serta
anggapan bahwa siswa berkebutuhan khusus tidak memiliki kemampuan yang cukup
untuk menguasai materi belajar.
d. Karena
keterbatasan fasilitas sekolah, pelaksanaan pembelajaran belum menggunakan
media, resource, dan lingkungan yang beragam sesuai kebutuhan anak.
- Belum didukung dengan kualitas guru yang memadai. Guru kelas masih dipandang not sensitive and proactive yet to the special needs children.
- Keberadaan guru khusus masih dinilai belum sensitif dan proaktif terhadap permasalahan yang dihadapi ABK.
5.
Sistem dukungan
a. Belum
didukung dengan sistem dukungan yang memadai. Peran orang tua, sekolah khusus,
tenaga ahli, perguruan tinggi-LPTK PLB, dan pemerintah masih dinilai minimal.
Sementara itu fasilitas sekolah juga masih terbatas.
b.
Keterlibatan orang tua sebagai salah satu
kunci keberhasilan dalam pendidikan inklusif, belum terbina dengan baik.
Dampaknya, orang tua sering bersikap kurang peduli dan realistik terhadap
anaknya
Komentar
Posting Komentar