Implementasi pendidikan inklusi
Jum'at, 25 Maret 2022
Implementasi Pendidikan Inklusi
Oleh Fazriah Turomdon
Implementasi pendidikan inklusi menempatkan anak berkebutuhan khusus untuk belajar dengan anak normal di sekolah reguler.
Berdasarkan perkembangannya pendidikan inklusi di negara maju yaitu :
1. Amerika serikat, perkiraan anak ABK hanya 0,5% yang di sekolahkan disekolah khusus, sedangkan lainnya di sekolah biasa. ( Ashman dan elkins, 1994)
2. Inggris, pada tahun 1980-1990-an saja. peserta didik di sekolah khusus mulai menurun dari 9 juta menjadi 20 orang, karena kembali ke sekolah biasa. (Warnock, 1978)
Di negara Indonesia pada umumnya pendidikan inklusi di kelompokkan selaras dengan konsep pendidikan nasional, yaitu :
1. Inklusi menjadi wadah untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk bisa bersekolah tanpa membedakan genre, etnis, status sosial dan lain-lain.
2. Inklusi mengimplementasikan model multi input yang artinya tidak ada penolakan murid untuk belajar.
3. Program kurikulum yang di terapkan dalam pendidikan inklusi berbasis kepada anak.
4. Evaluasi di lakukan secara adil, di sesuaikan dengan kemampuan anak.
Pro pendidikan inklusi :
1. Masyarakat menganggap, belum ada bukti empiris tentang sekolah khususyang menunjukkan hasil lebih baik bagi anak.
2. Sekolah khusus lebih mahal dari reguler
3. Sekolah khusus mengharuskan penggunakan label berkelainan untuk membedakan anak cacat dan normal.
4. Banyak anak ABK yang tidak memperoleh pendidikan, di karenakan sekolah khusus tidak tersedia secara dekat.
5. Anak ABK harus di biasakan bersosialisasi dengan masyarakat.
Kontra pendidikan inklusi :
1. Terhalang oleh peraturan perundang- undangan yang berlaku.
2. Ada peneliti yang mengeluarkan gagasan bahwa anak ABK jangan di lapas begitu saja dengan tempat alternatif.
3. Banyak orang tua menempatkan anak di sekolah khusus.
4. Sekolah yang tidak sanggup menerima anak ABK.
Permasalahan pendidikan inklusi :
1. Di dalam pandangan masyarakat, pendidikan inklusi yang masih ada pro dan kontra, bagi ABK sebagai upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan.
2. Pendapat orang tua : anak harus mengikuti aturan sekolah sehinggap membebani anak, padahal sekolahkhusus itu aturannya mengikuti kemampuan anak.
3. Guru yang tidak siap mengajar ABK.
Itulah materi yang di bahas hari ini, terimakasih semoga bermanfaat
Komentar
Posting Komentar