Pendidikan Inklusi

Sejarah perkembangan Pendidikan Inklusi

             Oleh Tasya Budi Putriawati

- Februari, 19, 2022


Pada Pertemuan kemarin pertemuan ke-3 Mata Kuliah Pendidikan Inklusi dosen saya membahas tentang “ Sejarah Perkembangan Pendidikan Inklusi “  pada tahun 1961 sejarah perkembangan pendidikan inklusi di dunia pada mulanya diprakarsai dan diawali dari negara-negara Scandinavia di wilayah negara ( Denmark, Norwegia, dan Swedia ) dan negara-negara lainnya. 


Selanjutnya pada tahun 1991 di negara Bangkok mulai memperkenalkan adanya konfersi dunia anak. Konsep pendidikan inklusi ini dengan ditandai adanya pergesekan model pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus dari segregatif ke integrative. Yang dinamai Konversi Hak Anak atau dalam bahasa inggris ( Education for all )


Dilanjutkan pada tahun 1994 di Salamanka hasil konversi ini dengan mengadakan adanya statmen baru dari pertemuan dengan berbunyi 3 hal yaitu :

Semua anak sebaiknya belajar bersama.

Pendidikan dibutuhkan dengan adanya siswa dan kebutuhan siswa.

ABK diberikan layanan khusus.

Indonesia masuk pada tahun 2004 di Bandung .

Dengan adanya konversi nasional Indonesia menuju pendidikan inklusi.

Maka dari itu selanjutnya pada tahun 2005 dengan diadakannya Simposismen Internasional yang berlokasi di bukit tinggi yaitu untuk memperjuangkan hak-hak anak yang memiliki hambatan dalam belajar atau bisa disebutkan ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) dengan menekankan agar bisa mengembangkan program pendidikan inklusi.

Setelah itu kita bisa menyikapi anak-anak yang memiliki Hiperaktif dengan adanya penanganan pembimbingan untuk bisa menyikapi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dan terganggu mentalnya seperti Hiperaktif. Maka kita perlu dengan adanya tujuan inklusi pada anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti dibawah ini.

Adapun Tujuan Inklusi :

Dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kesemua terhadap anak.

Membantu mempercepat program wajib belajar pendidikan dasar pada usia anak 12 tahun.

Menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman. Tidak diskriminatif serta ramah dalam pembelajaran.

Maka kita sebagai manusia sebaiknya tidak harus membeda-bedakan anak-anak yang normal dengan yang tidak normal contohnya seperti anak ABK(Anak Berkebutuhan Khusus) dengan ATBK(Anak Tidak Berkebutuhan Khusus) kenapa kita tidak boleh membeda-bedakan karena kita harus tahu bahwa seistimewa-istimewanya manusia yang normal maka disitu ada yang lebih istimewa yaitu anak-anak yang tidak normal maka kita harus lebih menghargai dan bisa menyikapi hal-hal yang seperti itu. 

Sangat bagus dengan diadakannya Pendidikan Inklusi agar kita terbiasa dengan adanya anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Dan bisa menyikapi dan menanganinya.


Komentar

Postingan Populer